Blog

Tuhan Yang Kesepian – Mimbar

“Dan, sesungguhnya masjid ini dibangun di atas landasan takwa.”

Di Rumah Tuhan Yang Agung, dari atas mimbar-Nya, sering kali lembing meluncur dan menghunjam jantung dan hati mereka yang di dalamnya Tuhan bersemayam dengan teduh dan tenteram. Dia menggetarkan hati dan jiwanya. Dari atas mimbar juga, cacian dan hinaan kepada orang-orang yang hatinya Tuhan bersemayam dalam damai, diremehkan dan kadang dinistakan.
Saya tidak ahli tentang Al-Quran layaknya para mufasir. Saya juga bukan pakar dalam bidang ini. Namun, saya membaca dan mencoba merenungi bahwa ada 28 ayat yang menerangkan tentang masjid. Dan sebanyak itu, kata masjid disebutkan dalam Al-Quran tentulah karena masjid begitu sentral perannya dalam membangun jiwa orang  beriman, yakni ketakwaan. Ketakwaan menjadi muara bagi seluruh amal peribadatan dalam Islam.

Dinyatakan bahwa masjid haruslah dibangun di atas sendi-sendi ketakwaan. Dan, takwa itu adalah kesadaran penuh bahwa hanya Tuhan-lah Yang Mahatahu, Mahahadir, Maha Melihat, dan Maha Segalanya, God transend all (hanya Tuhan yang melampaui segalanya). Dalam takwa juga ada kesadaran bahwa hanya Tuhan Yang Mahabenar. Manusia itu hanya mampu menggenggam yang kecil-kecil. Hanya yang relatif. Sementara itu, Tuhan adalah Yang Absolut. Karena kedudukan dan posisi manusia yang relatif itulah, ada kemungkinan untuk terjadi kesalahan. Orang beriman setiap saat harus menyadari kemungkinan itu, kemungkinan untuk salah dan sesat.
Jika saja kita mau menyadari, shalat yang arti sesungguhnya adalah doa di antaranya untuk meminta pertolongan dan bimbingan dari kemungkinan salah dan sesat. Dan, tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Kita masih meraba-raba, meski kita seraya yakin bahwa jalan yang kita jalani adalah yang benar. Dengan cara demikian sikap hanif atau kesadaran merendahkan diri dalam hal mengusung kebenaran harus dipancangkan dengan tegas juga arif. Kita tidak boleh sombong apalagi malah secara vulgar menuduh dan menghukumi yang tidak sama dengan kita sebagai kelompok yang sesat.
Saya dahulu pernah belajar di sebuah sekolah. Kiai saya yang luas pengetahuan agama dan umumnya selalu saya lihat duduk di bawah sebuah tiang masjid yang besar dan megah. Beliau suka berbaur dengan siswa-siswanya melakukan shalat sunah berkali-kali menunggu datangnya waktu shalat Jumat. Beliau saat itu sudah sangat sepuh. Berjalan pun tertatih-tatih untuk bisa melewati tangga masjid yang banyak itu.
Saya suka memperhatikan beliau. Setelah duduk dan selesai shalat, beliau akan berzikir. Saya perhatikan mulut beliau komat-kamit, sementara mata beliau terpejam. Lalu, beliau akan bangun lagi dan melakukan shalat sunah lagi. Setelah itu, beliau akan berzikir lagi. Beliau melakukan amalan itu hingga datang waktu shalat Jumat. Beliau adalah Alm. Kiai Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor di Jawa Timur.

Saat itu, saya masih kecil. Saya baru tamat Sekolah Menengah Negeri. Saya belum bisa banyak menangkap banyak hal. Namun, setelah perjalanan zaman, saya baru sadar. Saya dapat belajar dari sikap beliau itu bahwa sikap keberagamaan yang baik adalah yang hanif dan rendah hati untuk terus mencari kebenaran dan memohon bimbingan-Nya.
Setidaknya, itulah yang bisa saya tangkap dan yakini.
Tahun-tahun berlalu dan berganti. Dan benar, saya menemukan banyak pengalaman bahwa ternyata dalam keberagamaan, kita sering tergelincir dan mudah gamang. Kita dengan mudah menggunakan masjid dan mimbar bukan untuk membangun ketakwaan: menumbuhkan kesadaran kenisbian kebenaran yang kita raih dan kerendah-hatian.
Akan tetapi, sebaliknya, kita sering berlaku sok bersih, sok wakil Tuhan, atau bahkan menjadi Tuhan sendiri yang bisa menghukumi dan menyesatkan pihak lain. Di atas mimbar-Nya, banyak orang berlaku menjadi tuhan-tuhan kecil yang sombong dan angkuh.
Sadarkah kita kalau mimbar dalam Islam memiliki sejarahnya yang kelam. Ia pernah dijadikan sebagai tempat untuk menghujat dan mencaci maki. Bahkan, hujatan dan caci maki menjadi syarat sahnya khutbah Jumat. Tanpa hujatan dan makian, khutbah dinyatakan tidak sah. Coba apa yang bisa kita bayangkan?

Lucunya yang dihujat adalah Ali r.a. dan para pengikutnya!
Getir juga sekaligus memalukan. Namun, itu terjadi nyaris dalam rentang 40 tahunan. Setidaknya, jejak itu dapat ditelusuri dalam sejarah politik Islam atau Islam yang dipolitisasi oleh hasrat dan ambisi kekuasaan. Sejarah telah mencatatnya dengan jejak hitam dan bernoda itu.
Diawali dengan ketakutan bangkitnya keluarga Ali r.a. mendapat pengaruh dan dukungan untuk merebut kembali kekuasaan, Khalifah Yazid, anak Muawiyah, kemudian membantai keturunan Ali r.a. di Karbala. Keturunan Ali r.a. itulah yang kemudian dikenal dengan istilah ahlulbait. Setelah pembantaian itu, dia tidak berhenti. Kampanye dan propaganda kebencian kepada Ali r.a. dan ahlulbait dilakukan. Dia mengampanyekan hujatan dan makian di atas mimbar-Nya. Dan, itu terus berlangsung hingga tampilnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang agung. Dia begitu arif dan bijaksana. Dia mengagumi dan meneladani sikap takwa (berlaku adil). Pada masa kepemimpinannya, mimbar disterilkan dari  segala hal yang bukan ketakwaan. Masjid harus menjadi tempat untuk melembagakan takwa (menumbuhkan sikap-sikap adil, fairly to act).
Zaman terus bergerak dan hasrat juga ambisi pada kekuasaan dan harta tidak pernah reda. Hingga hari-hari ini kita masih bisa menyaksikan itu.

Hasrat dan ambisi itu terus ada dan menguasai masjid dan mimbar, menguasai dan melemparkan dari masjid apa-apa yang bukan takwa demi mencapai tujuannya. Lalu, dari atas mimbar pun Tuhan yang di sana, di hati orang-orang yang hanif, dicemooh.
Dan, hujatan juga makian pun berubah serupa lembing, meluncur dengan deras dan hebatnya. Lalu, kita pun menjadi mafhum, di Rumah Tuhan Yang Mahaagung kita sering berbuat nista dan kotor.
Politik itu kotor, begitu kata banyak orang. Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin saja pernyataan itu muncul hanya karena kita frustrasi tidak pernah mendapatkan sosok politikus yang punya integritas moral dan kerendah-hatian serta tidak menghamba pada kekuasaan. Dan, memang faktanya begitu. Kita hanya menemukan para politikus yang membanyol tentang politik Islam seraya menumbuhkan janggut dan memakai koko. Menebarkan bau misk Arab. Kadang tangannya memamerkan tasbih.
Oleh karena itu, dengan menyadari jejak sejarah, kita bisa mengambil pelajaran: janganlah Rumah-Rumah Tuhan dan mimbar yang agung milik-Nya dijadikan tempat menumpahkan kotoran seperti halnya kaum Kristiani dulu menjadikan kiblat dan tempat ibadah kaum Yahudi (Dome of Rock) sebagai tempat pembuangan kotoran.
Dan akhirnya, kita juga harus bisa belajar bahwa iman itu terus bergerak dan bukan sebuah titik. Dengan demikian, kita harus terus membuka diri dan memaknai kembali apa-apa yang sudah kita genggam agar memiliki daya guna dan membawa pada kebaikan yang lebih luas.

Penulis: Tasirun Sulaiman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.